Antara Passion dan tagihan, segini aja bahasannya? oleh - ceritadongeng.xyz

Halo sahabat selamat datang di website ceritadongeng.xyz, pada kesempatan hari ini kita akan membahas seputar Antara Passion dan tagihan, segini aja bahasannya? oleh - ceritadongeng.xyz, kami sudah mempersiapkan artikel tersebut dengan informatif dan akurat, silahkan membaca

Diskusi tentang memilih passion atau pekerjaan yang tersedia selalu memanas di media sosial. Kenapa?

Banyak yang bilang passion itu gak bisa dipake buat bayar tagihan tapi emang passion itu gak berarti ya?

Sebelum kawan mulai berasumsi apakah passion berharga atau tidak. Ada baiknya mari berpikir sejenak tentang diskusi passion ini.

Oh ya, passion berarti hasrat. Jadi melakukan sesuatu dengan passion bisa diartikan mengerjakan atau membuat sesuatu dengan semangat atau sepenuh hati. Banyak yang menganggap kalau bekerja sesuai passion adalah bekerja sesuai dengan yang disenangi.

Jadi kalau kawan bilang rebahan is my passion itu tidak masuk! Karena rebahan dilakukan karena lelah atau malas saja.

Sebelum kawan membaca panjang lebar tentang diskusi passion ini, ada baiknya kawan semua menyadari kalau kebanyakan orang Indonesia tidak paham bahasan ini. Orang-orang yang berbicara passion biasanya mereka yang memiliki akses ke pendidikan tinggi (universitas) atau juga berada di lingkungan keluarga dan sosial yang memungkinkan  kamu bisa mikirin passion-mu itu apa.

Masalahnya buat kebanyakan orang dari keluarga petani, nelayan, kuli, atau buruh, diskusi tentang passion ini tak nyambung. Kebanyakan mereka hanya berusaha menyambung hidup. Alih-alih melakukan hal yang disukai, survival (keberlangsungan hidup) lebih penting.

Keberlangsungan hidup mereka ditentukan hasil bumi, laut, dan pekerjaan. Kebanyakan bahkan tak punya penghasilan layak, apalagi kemanan dari segi finansial.

Ini membawa saya ke poin selanjutnya dari diskusi passion. 

Bicara soal passion itu sudut pandangnya diri sendiri.

Mengerjakan hal yang disukai, membuat sesuatu yang disenangi, dan lain sebagainya. Bicara passion rata-rata sudut pandangnya ya diri sendiri.

Saran saya kenapa gak mengubah sudut pandang, jadi bukan diri sendiri yang diukur tapi orang lain. Alih-alih mengukur kesenanganmu tentang mengerjakan atau membuat sesuatu kenapa tidak mengukur lewat kontribusi apa yang bisa kau berikan.

Mau itu sesuatu yang kau kerjakan sebagai seni, bagian dari pekerjaan, ada kontribusi yang bisa kau berikan pada orang lain. Karya seni itu seharusnya membuatmu merasakan sesuatu.

Kontribusi inilah yang membuat karyamu memiliki harga untuk orang lain. Kalau gambar sketsa yang kau buat bisa membuat sebuah kedai kopi makin dikenal orang, itu juga memiliki nilai kontribusi dan memang ada harganya.

Bekerja sesuai passion atau bekerja dengan passion?

Kerja sesuai passion adalah sebuah privilage, hak khusus buat kamu yang dengan pemikiran yang maju dan harta yang cukup sebagai jaminan untuk terus melakukannya. Kembali lagi tak semua orang mampu melukan hal yang mereka inginkan, kebanyakan kita tak bisa melakukan itu.

Ini akhirnya membawa ke kalimat yang berbeda juga. Alih-alih dari “…… is my passion” (isi dengan hal yang kau senangi) jadinya:

“Everything I do, I do it’s passionately.”

Kenapa mengerjakan apapun harus selalu dengan sepenuh hati? Ada dua alasan utama. Pertama, pekerjaan adalah kesempatan belajar bagaimana sesuatu berjalan. Dalam pekerjaan kawan apa pun kawan bisa belajar banyak hal seperti interaksi profesional, ketepatan waktu, atau proses sesuatu diciptakan, dan sebagainya. Ini kesempatan bagimu untuk mendapatkan pengetahuan itu.

Alasan kedua adalah dengan bekerja jejaring (network) akan tumbuh. Kesuksesan dalam bidang apa pun sangat dipengaruhi oleh luasnya jaringan relasi yang kau miliki. Hal ini dibuktikan oleh penelitian, kamu bisa baca buku Mendaki Tangga yang Salah karangan Eric Barker.

Pekerjaan apa pun yang kau miliki sekarang akan membantumu mencapai kesuksesan di masa depan.

Passion bisa berubah

Dalam satu masa mungkin kawan suka membuat sesuatu, namun rasa bosan pasti akan datang, meskipun sekarang kau sangat menyukainya.

Bisa jadi tahun 2020 ini kau suka membuat gambar sketsa, mungkin di tahun depan kau akan suka membuat membuat desain visual.

Mereka yang memang menjadi profesional di bidang masing-masing akan terus mengerjakannya meskipun bosan, bahkan ketika itu bukan passion-nya lagi. Ini karena bukan hobi lagi yang diukur, namun mata pencaharian dan perbedaanya dengan hobi itu signifikan.

Sebagai manusia kita mahluk yang akan terus belajar dan kesenanganmu akan berubah. Apalagi semakin dewasa kebanyakan kita makin realistis, passion jadi tak terlalu penting, yang penting adalah penghasilan atau keamanan finansial. Tanya saja sama mereka yang sudah berkeluarga.

Semakin dewasa kamu, semakin realistis. Terkadang resiko mengikuti passion terlalu besar, bisa membuat keluargamu kelaparan, itu biasanya yang kau pikir. Namun selalu ada perkecualian.

Komitmen lebih berharga daripada passion

Menyenangkan memang untuk mengerjakan sesuatu yang sesuai dengan passion, namun dalam jangka panjang komitmen itu lebih berharga daripada passion.

Misalnya jika kawan bisa membuat tulisan yang bagus, banyak orang yang suka. Namun jika tak konsisten pembacamu akan meninggalkanmu. Konsistensi dalam mempublikasikan tulisan adalah bentuk komitmen dan orang lain lebih menghargai komitmen dibanding Passion.

Passion itu sesuatu yang hanya bisa diukur diri sendiri, orang lain tak tahu seberapa suka kau mengerjakan atau membuat sesuatu.

Namun komitmen selalu bisa diukur karena berasal dari janji. Tergantung janji apa yang kau buat selalu mudah untuk menilai apakah kau tepat janji atau tidak.

Selalu ada resiko dalam hal yang ingin kau lakukan

Jika kau memutuskan untuk melakukan sesuatu diluar pekerjaan atau kebiasaanmu ada resiko di sana, kawan. Contohnya suatu hari kau memutuskan untuk membuat novel, itu adalah proses panjang (mungkin setahun?) dan belum tentu akan laku juga jika selesai. Namun kau tetap putuskan untuk membuatnya.

Keputusan menulis novel itu ada pada dirimu sepenuhnya, begitu juga dengan resikonya, seperti menghabiskan tabungan untuk  kau menulis novel selama setahun.

Iya, mungkin kau akan menghabiskan tabunganmu. Kalau itu novel pertamamu, kemungkinan besar kamu akan gagal (tidak semua penulis baru seberuntung Rintik Sedu atau Fiersa Basari).

Dengan menyadari resiko maka kau bisa menghitung apakah kau akan mengambil pilihan itu atau tidak.

Kalau kau benar-benar ingin melakukan atau membuat sesuatu, saranku lakukan saja. Namun jangan juga sampai membuat dirimu kesusahan untuk itu kau memerlukan persiapan.

Di era digital ini kita dipermudah untuk mempublikasikan dan menyebarkan karya kita namun tuntutannya adalah bisakah kau konsisten selama setahun? Ini keharusan jika kau ingin menyebarkan karyamu di era digital.

Opini pribadi saya adalah lakukan saja hal yang kau inginkan. Jangan selalu terpatok pada apa resiko, berapa besar biayanya. Kau tidak tahu apa yang ada dibalik menjadi konsisten.

Tips terakhir: kriteria dan batas waktu

Jika kau bersikeras untuk melakukan sesuatu itu, mungkin saya punya saran bagus. Beri tengat waktu pada hal yang kau buat.

Misalnya jika kau ingin menjadi Youtuber. Buatlah jadwal seberapa konten yang akan buat dalam satu minggu. Tetapkam tengat waktu (deadline), misalnya kau akan unggah kontenmu di Youtube setiap hari Rabu. Lalu lakukan itu selama 6 bulan.

Jika dalam 6 bulan kau memiliki penghasilan dan kau nilai itu cukup teruskan. Kalau belum mending kau cari pekerjaan atau kegiatan lain. Kenapa?

Untuk menilai sesuatu gagal atau tidak, diperlukan kriteria. Jika itu untuk keberlangsungan hidupmu ukur dari penghasilan dan seberapa banyak waktu sampai menghasilkan. Jika untuk memasarkan karyamu, ukur seberapa banyak orang yang mengenal dan berinteraksi dengan karyamu (misal membacanya di Wattpad).

Ku harap apapun yang kau lakukan terbantu dengan tulisan ini dan terimakasih sudah membaca pemikiran yang kurang penting ini.

Itulah tadi informasi mengenai Antara Passion dan tagihan, segini aja bahasannya? oleh - ceritadongeng.xyz dan sekianlah artikel dari kami ceritadongeng.xyz, sampai jumpa di postingan berikutnya. selamat membaca.

0 komentar:

Posting Komentar